Aku pertama kali mendengar istilah “perang ciuman” dari orang-orang dewasa yang tidak sedang bercanda. Biasanya, kalau mereka bercanda, ada senyum yang ikut muncul di wajah mereka, tapi kali ini tidak. Cara mereka menyebutnya pelan dan serius, seolah-olah ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata itu. Tradisi itu bernama Omed-omedan, dan katanya hanya ada di Sesetan, Bali. Waktu itu aku belum pernah melihatnya langsung, tapi justru karena itu, rasa penasaranku tumbuh lebih besar. Bagiku, sesuatu yang terdengar aneh tapi dijaga dengan serius biasanya menyimpan sesuatu yang tidak sederhana.

Aku mulai benar-benar memperhatikannya saat tahu tradisi itu dilakukan sehari setelah Nyepi. Hari yang katanya paling sunyi. Semua aktivitas berhenti, lampu dimatikan, jalanan kosong, bahkan suara seperti ikut ditahan. Aku membayangkan suasana itu seperti dunia yang dipause—semua orang diam, bukan karena takut, tapi karena memilih untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri mereka sendiri. Namun justru setelah kesunyian itu, sesuatu yang sangat berbeda terjadi. Keramaian muncul, dan di Sesetan, keramaian itu bukan keramaian biasa.
Aku berdiri di pinggir jalan saat orang-orang mulai berkumpul. Wajah-wajah yang datang terlihat santai, tapi ada sesuatu yang ditunggu bersama. Aku belum cukup umur untuk ikut, karena yang terlibat adalah para pemuda dan pemudi, jadi aku hanya mengamati. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, laki-laki di satu sisi dan perempuan di sisi lain. Awalnya suasana terasa ringan, penuh tawa kecil dan gerakan saling dorong yang seperti bercanda. Tapi semakin lama aku melihat, semakin terasa ada sesuatu yang ditahan, seperti udara sebelum hujan turun.
Saat aba-aba diberikan, semuanya berubah dengan cepat. Mereka saling menarik, bergerak menuju satu titik di tengah, dan dalam sekejap, batas antara dua kelompok itu hilang. Tubuh-tubuh bertemu, tangan saling menggenggam, dan di tengah kerumunan itu, aku melihat sesuatu yang membuatku mundur sedikit—beberapa dari mereka benar-benar saling berciuman. Dadaku terasa tidak nyaman. Dalam pikiranku, itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan di depan banyak orang. Aku langsung melihat sekeliling, mencari reaksi yang sama, mungkin ada yang marah atau menegur. Tapi tidak ada. Yang ada justru sorakan dan tawa.
Ketegangan di dalam diriku justru meningkat ketika air mulai disiramkan ke arah mereka. Ember demi ember dituangkan dari berbagai arah, membasahi semua orang yang ada di tengah kerumunan. Awalnya kupikir itu hanya untuk menambah keseruan, tapi cara air itu dilempar, keras dan tanpa ragu, membuatku bertanya-tanya apakah ini benar-benar aman. Seseorang di dekatku berkata pelan bahwa air itu untuk mendinginkan suasana. Aku tidak langsung mengerti. Mendinginkan apa, kalau semuanya justru terlihat semakin liar?
Di tengah kebingungan itu, aku mulai melihat sesuatu yang sebelumnya terlewat. Saat seseorang ditarik terlalu kuat, ada tangan lain yang menahan. Saat seseorang terlihat tidak nyaman, ada yang melepaskan. Tidak ada aturan yang diucapkan, tapi semua orang seperti tahu batasnya. Hal itu justru membuatku semakin bingung, karena jika ini benar-benar kacau, seharusnya semuanya sudah berantakan sejak awal.
Aku mulai bertanya kepada beberapa orang di sekitarku. Mereka menjelaskan bahwa Omed-omedan bukan sekadar permainan, tetapi bagian dari tradisi lama yang bertujuan menjaga kebersamaan, terutama di antara para pemuda. Ada juga cerita lama tentang seorang raja yang sembuh setelah menyaksikan tradisi ini, sehingga dipercaya membawa keseimbangan bagi masyarakat. Aku tidak tahu cerita mana yang paling tepat, tapi aku mulai memahami bahwa ini bukan sesuatu yang muncul tanpa alasan.
Ketegangan yang tadi kurasakan mencapai puncaknya saat seseorang di tengah kerumunan benar-benar jatuh. Kali ini bukan sekadar kehilangan keseimbangan, tapi tubuhnya menyentuh tanah dengan jelas. Aku langsung berpikir bahwa ini akan menjadi berbahaya, bahwa permainan ini akan terus berjalan tanpa peduli. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semua orang berhenti. Tidak ada yang melanjutkan. Mereka segera membantu orang itu berdiri, memastikan keadaannya baik-baik saja, lalu mundur sedikit untuk memberi ruang. Setelah itu, mereka baru melanjutkan kembali.
Di momen itu, cara pandangku mulai berubah. Aku menyadari bahwa apa yang kulihat sejak awal mungkin bukan gambaran yang utuh. Yang terlihat seperti kekacauan ternyata memiliki batas yang dijaga bersama. Yang terlihat seperti keberanian berlebihan ternyata berdiri di atas kepercayaan. Seorang bapak di sampingku berkata bahwa tidak semua yang terlihat aneh itu salah, dan kadang sesuatu terasa aneh hanya karena kita belum pernah berada di dalamnya. Aku tidak langsung menjawab, tapi kata-kata itu membuatku berhenti menilai.
Aku kembali melihat ke arah kerumunan, tapi kali ini dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi fokus pada hal yang membuatku kaget, melainkan pada bagaimana mereka saling menjaga, bagaimana mereka berhenti ketika perlu, dan bagaimana mereka tetap tertawa tanpa menjatuhkan satu sama lain. Perlahan, semuanya mulai terasa masuk akal, bukan karena aku sudah sepenuhnya mengerti, tapi karena aku berhenti memaksakan semua harus sesuai dengan apa yang sudah kukenal sebelumnya.
Aku teringat lagi pada Nyepi, tentang diam yang panjang itu. Mungkin setelah diam, manusia memang butuh kembali bertemu, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara rasa. Tradisi ini mungkin adalah salah satu cara mereka untuk melakukannya.
Saat acara berakhir dan orang-orang mulai kembali ke aktivitas mereka, aku berjalan pulang dengan pikiran yang berbeda. Aku datang dengan rasa penasaran, sempat merasa bingung, bahkan hampir menilai bahwa apa yang kulihat itu salah. Tapi jika aku tadi memutuskan pergi lebih awal, aku mungkin akan membawa pulang kesimpulan yang keliru.
Dari situ aku mulai mengerti bahwa toleransi bukan berarti langsung setuju, tapi memberi waktu pada diri sendiri untuk memahami sebelum menolak. Dan anehnya, justru dari sesuatu yang awalnya terasa paling tidak masuk akal, aku belajar bahwa memahami budaya orang lain bisa menjadi hal yang menyenangkan, selama aku tidak buru-buru merasa paling benar.
Aku masih dua belas tahun, dan mungkin aku belum mengerti semuanya. Tapi sekarang aku tahu satu hal: kadang, yang membuat kita belajar bukan karena sesuatu itu mudah dipahami, tapi karena kita cukup sabar untuk tidak langsung menjauh.